13 Filosofi Mendaki Gunung yang Akan Membuatmu Lebih Menghargai Hidup

Kamu suka mendaki gunung? Wah keren!

Itu buktinya, kamu cenderung menyukai alam dan aktivitas yang memacu adrenalin. Selain dapat merasakan nuansa indah di puncak gunung, secara tidak langsung kamu juga sudah melatih fisik dan mental.

13 Filosofi Mendaki Gunung yang Akan Membuatmu Lebih Menghargai Hidup
foto via pexels.com | Oziel Gomez
Namun, kalau diresapi lebih dalam, mendaki gunung juga memili pelajaran atau filosofi hidup. Hal-hal terkait mendaki baik itu perencanaannya hingga pelaksanaannya, semuanya mengandung makna kehidupan.

Kalau kamu penasaran, berikut beberapa filosofi mendaki gunung yang sangat berkaitan dengan perjalanan hidup seseorang. Cekidot!

1. Mendaki butuh tujuan yang jelas, sama seperti kita HIDUP di dunia ini


Sebelum naik gunung, kamu tentu punya tujuan yang ingin dicapai, misalnya harus naik sampai ke puncak. Namun pastikan kondisimu memungkinkan, jangan sampai kelewat batas. Pada kenyataannya, mendaki gunung tidak melulu sampai ke puncak.

Kalau tubuhmu memang sudah tidak kuat, cobalah istirahat saja dulu. Kamu bisa nge-camp bareng teman-teman sependakian. Ingatlah, puncak bukanlah segalanya. Prioritasmu adalah keselamatan dan kesehatanmu.

Jika tujuan untuk sampai ke puncak belum terpenuhi, kamu bisa mencobanya di lain waktu. Jangan bertindak sebaliknya, memaksakan diri padahal kemampuan diri sendiri tidak memungkinkan. Bukannya naik gunung untuk dinikmati, bukan untuk menyakiti diri sendiri?

Yah, mendaki gunung memang sama seperti hidup. Kita harus menentukan tujuan hidup yang jelas agar semuanya lebih terarah. Namun, tujuan yang sudah ditetapkan sedari awal terkadang bisa saja tidak tercapai.

Kita harus bersabar dan tetap berusaha untuk mewujudkan tujuan tersebut, siapa tahu di lain waktu kita bisa menggapainya.

Dan yang pasti, jangan terlalu memaksa diri. Kita itu manusia, sama-sama butuh yang namanya ‘KEBAHAGIAAN’. Oke boss?

2. Siapkan rencana dengan matang : yang sudah direncanakan belum tentu berhasil, apalagi kalau tidak direncanakan?


Filosofi Mendaki Gunung - Perencanaan
Merencanakan adalah wajib! - foto via pexels.com | rawpixel.com
Merencanakan sebelum berangkat mendaki merupakan kunci keberhasilan. Disadari atau tidak, rencana yang sudah disusun juga kadang belum tentu berhasil.

Lalu bagaimana kalau tidak direncanakan? Mau jadi apa nantinya? Masa iya, mendaki tanpa bawa persiapan apa-apa?

Mendaki tentu berbeda dengan traveling ke pantai. Kamu harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan lebih terorganisir. Setidaknya, beberapa hal ini harus kamu persiapkan sebelum mendaki:
  • Menentukan jadwal / waktu keberangkatan (jangan sewaktu musim hujan, karena lebih berisiko).
  • Menganalisa jalur pendakian yang ingin dilalui.
  • Mengetahui pos atau titik untuk beristirahat.
  • Mempersiapkan semua perlengkapan yang berhubungan dengan aktivitas mendaki.
  • Menjaga dan melatih kondisi agar tetap dalam kondisi yang sehat wal afi’at.
Kalau kamu mendaki tanpa perencanaan yang super matang, maka akan sangat berbahaya. Apalagi kalau kamu itu pemula, jangan main-main dengan hal ini ya...

Persiapan seperti ini juga sama seperti hidup. Kita harus bisa melangkah dengan perencanaan matang agar semuanya bisa berjalan pada jalur yang benar.

Meski belum tentu berhasil dan akan ada halangan yang menyertainya, namun ini jauh lebih baik ketimbang tidak merencanakannya sama sekali.

Bersabarlah, rintangan yang dilewati merupakan fase menuju kedewasaan

3. Setiap rintangan dilewati membuat kita jadi lebih dewasa, bersabarlah!


Kalau kamu bukan orang yang sabaran, mungkin mendaki gunung bukanlah hal yang cocok untukmu. Mendaki butuh kesabaran yang tinggi, di tengah jalur pendakian mungkin kamu akan tergopoh-gopoh saking lelahnya.

Tapi jangan mengeluh! Istirahatlah sejenak, semuanya butuh proses untuk dilalui. Kalau kamu sukanya ngeluh, teman-temanmu pasti akan sangat risih. Bisa jadi, mereka tidak akan mengajakmu untuk pendakian berikutnya. Berabe kan?

Hal ini selaras dengan kehidupan. Setiap orang tentu akan diuji sesuai kadarnya masing-masing. Pilihan kita ada dua, terus bersabar melewati proses atau malah mengeluh begitu saja?

Ingat bung, untuk bisa mendaki sampai ke puncak butuh kesabaran dan tekad pantang menyerah yang tinggi.


4. Mendaki gunung seorang diri sangatlah berat, kamu tak akan kuat! 


 Filosofi Mendaki Gunung - Butuh Teman
Bersama teman, mendaki jauh lebih asyik - via pexels.com | Abhishek Gaurav
Yakin bisa mendaki seorang diri? Kalau bisa, kamu berarti orang yang gokil banget.

Tapi ingat, mendaki bersama teman tentu jauh lebih mengasyikkan dibanding mendaki seorang diri. Teman-temanmu pasti akan senang hati membantu saat kamu kesusahan.

Kalau kamu sakit, mereka bisa membantumu secara suka rela. Kalau kamu sedang lemah gemulai, mereka akan menyemangatimu. Kalau kamu sedang bosan, mereka akan menghiburmu.

Mungkin mendaki seorang diri akan membuat langkahmu jadi lebih cepat, namun bersama teman perjalananmu akan semakin jauh.

Sama seperti hidup, kita pasti membutuhkan teman atau orang lain. Secara, manusia itu memang makhluk sosial. Tidak akan bisa hidup secara ‘SOLITER’ yang berjalan seorang diri.

5. Sadarlah, masih banyak orang baik di dunia ini yang suka menolong.


Selain teman sendiri, di perjalanan kamu mungkin akan berjumpa dengan pendaki lain. Mungkin ada suatu moment ketika kamu dan temanmu susah menemukan jalur pendakian alternatif, nah mereka mungkin saja akan membantumu. Mendaki bersama-sama hingga hingga ke puncak. Atau mungkin saja sekadar menawarkan minuman, makanan dan menyemangatimu.

Di dunia ini kita juga masih banyak orang baik yang akan menolong orang lain. Pada dasarnya, manusia memang memiliki sisi yang baik dan peduli kasih.

6. Mendaki bersama teman berarti harus saling berbagi tanggung jawab.


Filosofi Mendaki Gunung - Berbagi Tanggung Jawab
Mendaki harus saling bertanggung jawab - foto via pexels.com | Ajay Bhargav GUDURU

Kamu mungkin sudah terbiasa hidup mandiri dan bertanggung jawab untuk diri sendiri. Tetapi kalau sudah berada di alam, sifat yang seperti ini harus kamu tinggalkan. Kamu juga punya tanggung jawab untuk terhadap teman-temanmu yang mendaki bersama. Karena bagaimanapun, mereka juga punya tujuan yang sama denganmu. Sampai ke puncak dan pulang dengan selamat!

7. Ini bukan tentang menaklukkan gunung, tetapi tentang menaklukan diri sendiri.


Diri sendiri sejatinya sangat mudah disusupi aura negatif. Saat mendaki, kamu mungkin merasa sangat letih, susah nafas, kedinginan dan alasan lain yang membuatmu ingin menyerah.

Bisa saja kamu akan tersadar bahwa kamu mendaki bukan untuk menaklukkan gunung, melainkan menaklukkan diri sendiri. Akankah kamu termakan egomu dan menyerah? Atau melanjutkan perjalanan hingga ke puncak?

Lalu, bagaimana kalau kamu sudah tidak kuat karena sakit. Apakah kamu akan melanjutkan sampai ke puncak? Semuanya tergantung dari EGO dan KEPUTUSAN yang kamu ambil.

Hidup pun terkadang begitu. Musuh kita sebenarnya bukan siapa-siapa, melainkan diri kita sendiri.

8. Kita bukan mesin, kita manusia. Kalau lelah ya istirahat, jangan dipaksakan.


Seperti yang sudah sering saya singgung, mendaki gunung memang melelahkan. Seorang pendaki dituntut untuk selalu mengetahui batasan dirinya. Untuk bisa sampai ke puncak, harus ada jeda istirahat dengan ritme yang sesuai.

Kalau dipaksa terus berjalan, maka tubuh akan sangat tertekan. Bahkan bisa-bisa, tujuan sampai ke puncak menjadi tidak tercapai.

Saat menjalani kehidupan sehari-hari, kita juga harus beristirahat sejenak. Tubuh kita bukanlah mesin yang bisa bekerja dengan durasi lama. Kalau sedang banyak tekanan, mungkin refreshing dan mencoba hal-hal baru bisa menjadi obat yang paling mujarab.

9. Berbaur dengan alam merupakan langkah yang tepat untuk keluar dari “comfort zone”.


Bagi sebagian orang, gunung bukanlah sesuatu yang mengasyikkan. Untuk mencapai ke puncak gunung butuh proses panjang yang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Berani mendaki gunung berarti kamu sudah berusaha untuk keluar dari zona nyaman, Meninggalkan sesuatu yang nyaman di perkotaan, meninggalkan sesuatu yang setiap harinya itu-itu saja.

Nampaknya, ini selaras dengan kisah orang-orang sukses di luar sana. Mereka yang suka keluar dari zona nyaman mereka biasanya akan lebih berpeluang berhasil menggapai impiannya.

10. Mencapai puncak memang butuh perjuangan, namun kamu akan merasa lega saat sampai di sana.

Filosofi Mendaki Gunung - Sampai Puncak Sangat Lega
Sangat menyenangkan bisa sampai puncak! - via pixabay.com

Puncak gunung memang menjadi tujuan utama para pendaki. Namun untuk sampai ke sana, dibutuhkan perjuangan yang ekstra. Semua pendaki tentu merasakan hal yang sama, lelah dan letih. Tetapi pada akhirnya, kalau akan bahagia sekali ketika sudah sampai di puncak. Seperti telah melewati proses yang panjang dan akhirnya sukses juga.

Perjalanan hidup pun begitu. Ada tahapan-tahapan sendiri untuk mencapai keberhasilan. Semuanya membutuhkan proses, bahkan tak jarang membutuhkan perjuangan yang berdarah-darah. Memang benar, di balik kesusahan pasti ada kemudahan.

11. Bersatu dengan alam dan rasakan sensasinya. Buang jauh-jauh pikiran untuk membuka gadget kesayanganmu.


Kita ini hidup di era yang serba canggih dan modern. Terkadang, kita terlalu asyik berkelana bersama gadget kesayangan. Setiap hari, bahkan mungkin setiap waktu. Welah dalahh...

Saat di puncak, coba rasakan hawa segar di atas sana. Rasakan, resapi dan nikmati. Tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan. Ohh, seakan dunia hanya milik alam dan dirimu seorang.

Kalau pun ingin mengabadikan moment, jangan di awal saat baru sampai di puncak. Abadikan momentmu di puncak kalau kamu mau pulang, itu jauh lebih bijak dan berdampak terhadap dirimu sendiri.

12. Setelah sampai di puncak gunung, kamu bisa lebih mensyukuri nikmat. Ternyata hidup sangatlah indah dan bermakna!


Selain merasakan kebahagiaan tersendiri, kamu juga akan lebih bersyukur terhadap nikmat yang sudah diberikan Tuhan. Di puncak gunung, kamu bisa melihat pemandangan yang begitu menakjubkan.

Setelah melewati berbagai rintangan, rasa lelahmu akan terbayarkan. Kamu juga akan melihat bahwa kamu itu kecil banget dihadapan semesta. Udara segar dan angin sepoi-sepoi juga seharusnya turut menyertaimu untuk lebih bersyukur.

13. Kamu kemudian tersadar, bahwa pulang dengan selamat merupakan tujuan akhir.

Filosofi Mendaki Gunung - Pulang
Pulang dengan selamat adalah tujuan akhir setiap pendaki - via pexels.com | Flo Maderebner

Setelah mencapai puncak, kamu mungkin sudah merasa puas dan lega. Seakan tubuh-tubuhmu sangat bugar dan menyatu dengan alam. Menyaksikan, mengamati keadaan luar yang begitu memukau batin.

Namun, setelah itu apa?

Tentu saja kamu harus pulang ke rumah dengan selamat. Menikmati keindahan di puncak gunung memang begitu mengasyikkan, namun di rumah tentu jauh lebih hangat. Berkumpul bersama orang-orang terdekat yang kita cintai, bercengkrama dengan mereka setiap hari.

Ini juga akan membuatmu semakin menghargai rumah dan mungkin akan kangen untuk berjumpa dengan orang tua. Yah, itu tempatmu berasal... tempatmu memulai aktivitas mendaki ini.
Makna dari mendaki bisa kita rasakan kalau kita sudah mencobanya. Kita akan benar-benar merasakan pelajaran hidup dari yang namanya mendaki gunung. Setuju?
Nah itulah beberapa filosofi mendaki gunung yang sangat sesuai dengan kehidupan kita saat ini. Dibutuhkan kesabaran, kerendahan hati, keteguhan hati, strategi dan perencanaan yang matang. Menjaga ego agar tidak mudah menyerah juga turut berperan untuk meningkatkan daya juang kita masing-masing.

Semoga menginspirasi dan selamat berbahagia!

0 Response to "13 Filosofi Mendaki Gunung yang Akan Membuatmu Lebih Menghargai Hidup"

Posting Komentar

Yakin gak mau komen?

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel